| UAS EXCEL | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Tablet Fe kepada Ibu Hamil dalam Rangka | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Penurunan Prevalensi Anemia di Kota Padang Tahun 2013 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| NO | Nama | Jumlah ibu hamil | HB<11 Mg | Rata-rata | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Kecamatan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 1 | Kecamatan perlakukan | 75 | 9,7 mg/dl | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 125 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 2 | Kecamatan control | 60 | 10,1 mg.dl | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 75 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
my freinds 1b
Selasa, 14 Januari 2014
UAS VERA -WORD
Anemia adalah salah satu dari 4 masalah gizi utama di
Indonesia, disamping KVA, GAKY,dan KEP. Prevalensi anemia banyak dijumpai pada
golongan ibu hamil, balita, anak sekola, remaja dan pekerja berat
berpenghasilan rendah. Telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah, namun
hasilnya belum juga menampakkan hasil sebagaimana diharapkan. Prevalensi anemia
pada ibu hamil pada tahun 1992 sebesar 55 % dan tahun 2007 masih di atas 50 %.
Sayuran sebagai sumber Fe untuk pembentukan hemoglobin darah sulit diharapapkan
oleh karane daya serap Fe Non Heme yang sangat rendah. Jika dilakukan pemenuhan
kebutuhan Fe dari pangan hewani harganya relatif lebih mahal.
Anemi apada bumil jika tidak diatasi segera bisa menyebakna BBLR, pendarahan sewaktu kehamilan dan persalinan yang berakibat fatal pada ibu dan janin.
Oleh karena itu telah dilakukan penelitian untuk mengetahui dampak pendistribusian tablet Fe kepada ibu hamil melalui media arisan ibu hamil yang ada di Posyandu.
Anemi apada bumil jika tidak diatasi segera bisa menyebakna BBLR, pendarahan sewaktu kehamilan dan persalinan yang berakibat fatal pada ibu dan janin.
Oleh karena itu telah dilakukan penelitian untuk mengetahui dampak pendistribusian tablet Fe kepada ibu hamil melalui media arisan ibu hamil yang ada di Posyandu.
Anemia adalah salah satu dari 4 masalah gizi utama di
Indonesia, disamping KVA, GAKY,dan KEP. Prevalensi anemia banyak dijumpai pada
golongan ibu hamil, balita, anak sekola, remaja dan pekerja berat
berpenghasilan rendah. Telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah, namun
hasilnya belum juga menampakkan hasil sebagaimana diharapkan. Prevalensi anemia
pada ibu hamil pada tahun 1992 sebesar 55 % dan tahun 2007 masih di atas 50 %.
Sayuran sebagai sumber Fe untuk pembentukan hemoglobin darah sulit diharapapkan
oleh karane daya serap Fe Non Heme yang sangat rendah. Jika dilakukan pemenuhan
kebutuhan Fe dari pangan hewani harganya relatif lebih mahal.
Anemi apada bumil jika tidak diatasi segera bisa menyebakna BBLR, pendarahan sewaktu kehamilan dan persalinan yang berakibat fatal pada ibu dan janin.
Oleh karena itu telah dilakukan penelitian untuk mengetahui dampak pendistribusian tablet Fe kepada ibu hamil melalui media arisan ibu hamil yang ada di Posyandu.
Anemi apada bumil jika tidak diatasi segera bisa menyebakna BBLR, pendarahan sewaktu kehamilan dan persalinan yang berakibat fatal pada ibu dan janin.
Oleh karena itu telah dilakukan penelitian untuk mengetahui dampak pendistribusian tablet Fe kepada ibu hamil melalui media arisan ibu hamil yang ada di Posyandu.
DATA YANG ASLI DOWNLOAD DISINI
| Laporan Akhir Penelitian Pengaruh Pemberian | ||||||||||||||||
| Tablet Fe kepada Ibu Hamil dalam Rangka | ||||||||||||||||
| Penurunan Prevalensi Anemia di Kota Padang Tahun 2013 | ||||||||||||||||
| NO | Nama | Jumlah ibu hamil | HB<11 Mg | Rata-rata | ||||||||||||
| Kecamatan | ||||||||||||||||
| 1 | Kecamatan perlakukan | 75 | 9,7 mg/dl | |||||||||||||
| 125 | ||||||||||||||||
| 2 | Kecamatan control | 60 | 10,1 mg.dl | |||||||||||||
| 75 | download disini | |||||||||||||||
|
|
|
|||||||||||||||
Selasa, 07 Januari 2014
Introduction
Diabetes is estimated to affect 25.6 million American adults (1)
and 366 million people worldwide (2), and the numbers will
continue to increase to ~552 million by 2030 globally (2). Type 2
diabetes makes up >90% of all diabetes cases. Therefore, primary
prevention of type 2 diabetes through diet and lifestyle
modifications is of paramount public health importance. Recent
evidence suggests that the type of fat rather than total fat intake
plays an important role in the development of type 2 diabetes
(3,4). Studies have shown that a higher intake of MUFAs and
PUFAs and a lower intake of saturated fat and trans fat is
associated with a reduced risk of type 2 diabetes (4).download disini
Diabetes is estimated to affect 25.6 million American adults (1)
and 366 million people worldwide (2), and the numbers will
continue to increase to ~552 million by 2030 globally (2). Type 2
diabetes makes up >90% of all diabetes cases. Therefore, primary
prevention of type 2 diabetes through diet and lifestyle
modifications is of paramount public health importance. Recent
evidence suggests that the type of fat rather than total fat intake
plays an important role in the development of type 2 diabetes
(3,4). Studies have shown that a higher intake of MUFAs and
PUFAs and a lower intake of saturated fat and trans fat is
associated with a reduced risk of type 2 diabetes (4).download disini
ABSTRACT Glutathione ( -glutamyl-cysteinyl-glycine; GSH) is the most abundant low-molecular-weight thiol, and GSH/ glutathione disulfide is the major redox couple in animal cells. The synthesis of GSH from glutamate, cysteine, and glycine is catalyzed sequentially by two cytosolic enzymes,
-glutamylcysteine synthetase and GSH synthetase. Compelling evidence shows that GSH synthesis is regulated primarily by -glutamylcysteine synthetase activity, cysteine availability, and GSH feedback inhibition. Animal and human studies demonstrate that adequate protein nutrition is crucial for the maintenance of GSH homeostasis. In addition, enteral or parenteral cystine, methionine, N-acetylcysteine,
and L-2-oxothiazolidine-4-carboxylate are effective precursors of cysteine for tissue GSH synthesis. Glutathione plays important roles in antioxidant defense, nutrient metabolism, and regulation of cellular events (including gene expression, DNA and protein synthesis, cell proliferation and apoptosis, signal transduction, cytokine production and immune response, and protein glutathionylation). Glutathione deficiency contributes to oxidative stress, which plays a key role in aging and the pathogenesis of many diseases (including kwashiorkor, seizure, Alzheimer’s disease, Parkinson’s disease, liver disease, cystic fibrosis, sickle cell anemia, HIV, AIDS, cancer, heart attack, stroke, and diabetes). New knowledge of the nutritional regulation of GSH metabolism is critical for the development of effective strategies to improve health .lihaht download disini
-glutamylcysteine synthetase and GSH synthetase. Compelling evidence shows that GSH synthesis is regulated primarily by -glutamylcysteine synthetase activity, cysteine availability, and GSH feedback inhibition. Animal and human studies demonstrate that adequate protein nutrition is crucial for the maintenance of GSH homeostasis. In addition, enteral or parenteral cystine, methionine, N-acetylcysteine,
and L-2-oxothiazolidine-4-carboxylate are effective precursors of cysteine for tissue GSH synthesis. Glutathione plays important roles in antioxidant defense, nutrient metabolism, and regulation of cellular events (including gene expression, DNA and protein synthesis, cell proliferation and apoptosis, signal transduction, cytokine production and immune response, and protein glutathionylation). Glutathione deficiency contributes to oxidative stress, which plays a key role in aging and the pathogenesis of many diseases (including kwashiorkor, seizure, Alzheimer’s disease, Parkinson’s disease, liver disease, cystic fibrosis, sickle cell anemia, HIV, AIDS, cancer, heart attack, stroke, and diabetes). New knowledge of the nutritional regulation of GSH metabolism is critical for the development of effective strategies to improve health .lihaht download disini
NUTRISI, ENERGI & PERFORMA OLAHRAGA
Kebutuhan energi pada saat berolahraga dapat dipenuhi melalui sumber-sumber energi yang tersimpan di dalam tubuh yaitu melalui pembakaran karbohidrat, pembakaran lemak,serta kontribusi sekitar 5% melalui pemecahan protein. Diantara ketiganya,simpanan protein bukanlah merupakan sumber energiyang langsung dapat digunakan oleh tubuh dan protein baru akan terpakai jika simpanan karbohidrat ataupun lemak tidak lagi mampu untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh.Penggunaan antara lemak ataupun karbohidrat oleh tubuh sebagai sumber energi untuk dapat mendukung kerja otot akan ditentukan oleh 2 faktor yaitu intensitas serta durasi olahraga yang dilakukan. Pada olahraga intensitas rendah (±25 VO max) dengan waktu durasi yang 2 panjang seperti jalan kaki atau lari-lari kecil,pembakaran lemak akan memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pembakaran.
karbohidrat dalam hal produksi energi tubuh. Namun walaupun lemak akan berfungsi sebagai sumber energi
utama tubuh dalam olahraga dengan intensitas rendah, ketersediaan karbohidrat tetap akan dibutuhkan oleh
tubuh untuk menyempurnakan pembakaran lemak serta untuk mempertahankan level glukosa darah.
Pada olahraga intensitas moderat-tinggi yang bertenaga seperti sprint atau juga pada olahraga
beregu seperti sepakbola atau bola basket , pembakaran karbohidrat akan berfungsi sebagai sumber energi
utama tubuh dan akan memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pembakaran lemak
dalam memproduksi energi di dalam tubuh. Kontribusi pembakaran karbohidrat sebagai sumber energi
utama tubuh akan meningkat hingga sebesar 100% ketika intensitas olahraga berada pada rentang 70-95%.
untuk melihat download disini
Kebutuhan energi pada saat berolahraga dapat dipenuhi melalui sumber-sumber energi yang tersimpan di dalam tubuh yaitu melalui pembakaran karbohidrat, pembakaran lemak,serta kontribusi sekitar 5% melalui pemecahan protein. Diantara ketiganya,simpanan protein bukanlah merupakan sumber energiyang langsung dapat digunakan oleh tubuh dan protein baru akan terpakai jika simpanan karbohidrat ataupun lemak tidak lagi mampu untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh.Penggunaan antara lemak ataupun karbohidrat oleh tubuh sebagai sumber energi untuk dapat mendukung kerja otot akan ditentukan oleh 2 faktor yaitu intensitas serta durasi olahraga yang dilakukan. Pada olahraga intensitas rendah (±25 VO max) dengan waktu durasi yang 2 panjang seperti jalan kaki atau lari-lari kecil,pembakaran lemak akan memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pembakaran.
karbohidrat dalam hal produksi energi tubuh. Namun walaupun lemak akan berfungsi sebagai sumber energi
utama tubuh dalam olahraga dengan intensitas rendah, ketersediaan karbohidrat tetap akan dibutuhkan oleh
tubuh untuk menyempurnakan pembakaran lemak serta untuk mempertahankan level glukosa darah.
Pada olahraga intensitas moderat-tinggi yang bertenaga seperti sprint atau juga pada olahraga
beregu seperti sepakbola atau bola basket , pembakaran karbohidrat akan berfungsi sebagai sumber energi
utama tubuh dan akan memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pembakaran lemak
dalam memproduksi energi di dalam tubuh. Kontribusi pembakaran karbohidrat sebagai sumber energi
utama tubuh akan meningkat hingga sebesar 100% ketika intensitas olahraga berada pada rentang 70-95%.
untuk melihat download disini
Senin, 06 Januari 2014
DIET BAGI PENDERITA HIPERTENSI
DIET BAGI PENDERITA HIPERTENSI
Pada penderita hipertensi dimana tekanan darah tinggi > 160 /gram mmHg, selain
pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu terapi dietetik dan merubah gaya hidup. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah untuk membantu menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Disamping itu, diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan yang berlebih, tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Harus diperhatikan pula penyakit degeneratif lain yang menyertai darah tinggi seperti jantung, ginjal dan diabetes mellitus.
teks asli download disini
Pada penderita hipertensi dimana tekanan darah tinggi > 160 /gram mmHg, selain
pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu terapi dietetik dan merubah gaya hidup. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah untuk membantu menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Disamping itu, diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan yang berlebih, tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Harus diperhatikan pula penyakit degeneratif lain yang menyertai darah tinggi seperti jantung, ginjal dan diabetes mellitus.
teks asli download disini
Langganan:
Postingan (Atom)